Aku tak pernah merasa senang ketika aku harus sendiri. Sendiri dalam arti lain. Ketika batinku harus sendiri. Yahh, setidaknya benar-benar persis dengan majas “aku sendiri di keramaian”. Seperti itulah aku sekarang.
Aku tak pernah menginginkan sendiri seperti ini. Tapi ada daya, akhirnya keadaan pun mengalahkan keinginanku. Aku kalah telak dalam hal ini.
Ketika sendiri. Terlalu banyak pikiran melayang di benak. Terlalu banyak kemungkinan dan asumsi yang muncul bagai semut memenuhi otak. Pecah. Bercampur. Lebur. Aku kalah telak.
Sendiri tidak jauh dari sifat anak kecil yang tak dibelikan barang kesukaan. Yah, menangis lah yang aku maksud. Aku menangis. Selalu menangis di kesendirian batin ini. Namun aku heran mengapa aku sangat suka menangis. Padahal aku tau menangis itu membuat aku terlihat seperti lemah. Tapi hanya aku yang tau. Aku tidak lemah. Aku hanya merasa ‘agak’ lebih tenang sementara dengan menangis. Menangis adalah obatku. Kemudian, setelah menangis aku merasa satu, dua orang dalam khayal batinku mulai menemani, seperti orang itu mulai menyemangatiku. Padahal dalam real, tidak ada satu pun orang yang menemaniku kala itu. Hahaha. Aku tidak terlalu hebat dalam menyembunyikan kesendirianku. Aku sama seperti manusia lainnya. Aku memakai topeng. Topeng kejujuran dan kedustaan. Manusia itu memakai topeng bukan?
Kalau seperti ini, aku hanya ingin orang-orang terdekatku menemaniku. Itu saja. Sedikit memberikan motivasi dan semangat itu sudah cukup. Sangat cukup.
Tuhan, aku lelah seperti ini. Lelah dalam kesendirian, sementara harusnya aku menikmati hidup ini. Aku tidak boleh sendiri dalam batin. Yah, aku akan berusaha. Aku akan keluar dari belenggu ini. Pasti. Itu janjiku.
