"Tahu tidak apa yang sangat saya inginkan saat ini?"
"Kau ingin makan?"
"Tentu saja tidak."
"Lalu apa?"
"Saya hanya ingin sakit, saya ingin mati."
"Hahahaha lelucon macam apa ini? Kau gila!"
"Sungguh"
"......."
"Saya ingin mati duluan"
"Bicara apa kau?"
"Biarkan saya pergi mendahului kedua orang tua saya, saudara saya, dan hmm tentu saja ia. Biarkan saya terbiasa menghirup aroma tanah keabadian untuk saya"
"Jangan teruskan!"
"Kenapa? Kau tidak tega?"
"......"
"Jiwa saya telah lama mati, walaupun raga tetap bergerak. Kau tahu ini semu. Palsu."
"........"
"Mengapa kau menangis?"
"Tidak apa-apa."
"Saya ingin tersiksa, saya ingin lebih daripada ini."
"Sudahlah, saya mohon. Jangan bicara seperti itu."
Prakkkk... Gelas putih bergambar pohon beserta akarnya yang kokoh tiba-tiba jatuh dari meja di samping kedua anak muda itu.
"Tuhan telah mengirim tanda."