Memang tak akan pernah bisa melakukan hal apapun sendirian. Tapi kenapa justru sekarang aku berusaha untuk melakukan semua itu sendirian. Banyak faktor. Bisa dibilang aku sudah berada di titik keputus-asaan tertinggi. Aku pikir aku bisa tapi ternyata belum.
Mengapa manusia itu menganut aliran air susu di balas air tuba? Bukankah kita semua hanya makhluk ciptaan-Nya. Tidak seharusnya berbuat begitu bukan?
Bisakah aku hanya bergelut di bidangku tanpa harus bersusah payah memikirkan hal lain? Faktanya aku tidak bisa. Aku manusia. Aku makhluk sosial. Aku butuh orang!!
Ah, begitu susahnya menyadari kekhilafan diri sendiri. Aku berkaca maka kemudian aku menyadari. Menurutku. Tapi berbeda dengan mereka. Yang berhak bukan aku, tapi mereka. Serahkan kepada mereka. Tapi mereka bungkam seolah ini bukan masalah besar. Bertindak saja. Diam. Kemudian seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi lagi-lagi aku melihat perubahan. Apa aku yang terlalu perasa?
Andai aku bisa membaca isi hati mereka, kurasa itu yang paling baik. Namun impian belaka.
Minggu, April 15, 2012
Minggu, April 08, 2012
Catatan pada satu malam dingin hingga masuk angin
Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudera terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada
Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Tunggu aku,
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.
(supernova : akar, Dewi 'dee' lestari)
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudera terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada
Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Tunggu aku,
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.
(supernova : akar, Dewi 'dee' lestari)
Selasa, April 03, 2012
Catatan dini hari di satu taman yang banyak banci
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak dan bayang
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang antar duka mencinta dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat Bumi bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu.
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu.
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu.
Andai kau tahu.
(supernova : petir. Dewi 'dee' lestari)
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang antar duka mencinta dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat Bumi bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu.
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu.
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu.
Andai kau tahu.
(supernova : petir. Dewi 'dee' lestari)
Langganan:
Postingan (Atom)