Halaman

Kamis, Mei 24, 2012

1:28

kelam. gulita dan sebuah gumaman kecil dalam tahanan bibir yang bergetar lirih. kemudian ingatanku tentangNya bukan waktu yang tepat untuk mengutuk.

mega yang sudah kelam. kemudian akan berganti kelabu dan sebentar lagi biru. kokok si jago. embun yang menetes. sebentar lagi. namun masih belum bisa mengatup.

kegelisahan menyapa. namun dirobek oleh rasa perih. indra terbuka. kemudian tertutup lagi. adakah yang salah? atau aku yang memang memulai nya?

aku hanya berharap terkatup. bagaimanapun caranya. malaikat-malaikat, bantu aku.
tolong!

Senin, Mei 07, 2012

cerita hari ini

Tembalang, 7 mei 2012 11:52 AM

Aku masih terduduk di atas kasur empuk ini. Termenung. Alam pikiranku melalang buana. Sebuah novel berjudul larung tergeletak manis di samping kiriku menunggu lembar demi lembar kalimat di setiap kertas itu aku lahap dalam keheningan membaca. Namun aku masih bergeming. Aku mengantuk. Aku tidak bisa berkonsentrasi membaca disaat seperti ini. Terlebih lagi kalimat demi kalimat di novel ini berat. Perlu pemahaman intelektual.


Keadaan tidak sepenuhnya hening. Terdengar bunyi gemerisik dari luar. Mungkin para pekerja. Mungkin motor. Mungkin mobil. Dan sejuta kemungkinan lainnya. Tapi kita tidak akan pernah tahu jika tidak melihat keluar bukan?


Kemudian adzan dengan merdunya terdengar dari setiap penjuru masjid sekitar Tembalang ini. Memanggil para umat muslim untuk melakukan kewajiban sholat dzuhur dihari yang terik namun juga menyejukkan hati karena aku baru aja mendengar panggilan sholat. Membuat aku terhenyak dari pikiranku. Lamunanku. Kebosanan. Keheningan batin mungkin? Aku sudah harus ke kamar mandi untuk membasuh anggota tubuhku dengan air wudhu. Ya Allah ini waktu beribadah kepadaMu. Aku ingin bercerita banyak tentang hari-hariku. Tentang apa saja. Aku tak ingin menunda. Karena aku tak akan tahu berapa lama umurku

 


Tembalang, 7 mei 2012. siang hari yang lumayan sejuk


Aku tidak ingin tidur. Tidak ingin. Tidak ingin!
Namun kelopak mata seolah diberatkan oleh kiloan emas. Berat. Aku hanya mengerjapkan mataku menahan kantuk. Badanku tidak menolak. Dia merasa nyaman berbaring di kasur empuk. Di suasana yang tidak terlalu panas ini pilihan untuk tidur bukan menjadi masalah. Namun masalah bagiku. Buka pada kau.


Hembusan dari angin buatan membuatku terbuai, seolah kau berada di pulau Hawaii. Menikmati semilir angin pantai, ditemani secangkir jus buah segar. Cemilan gurih dan nikmat. Tak lupa juga topi bundar menghiasi kepala. Surga dunia. Ingin menjadi nyata saja.
Sekali lagi hembusan angin ini seolah mengajak untuk menina bobokkan dirimu. Berkata "ayolah tidur saja, ini waktu yang tepat" dan diberi hiasan senyuman memikat ala wanita cantik yang menggoda pria.


Aku berusaha melawan. Kemudian berhasil. Kemudian larut lagi.
Sebenarnya apa konsep dari semua ini?
Perlukah sebuah alasan dari pertanyaan konyol ini. Tak akan pernah dan bisa kujawab karena disini lah tempatnya terjawab sudah. Ataukah belum? Terlalu jamak. Namun aku mengerti dan seulas senyum tipis melingkari sudut bibirku.

Tembalang, 7 mei 2012. 03:45 PM

Sore ini hujan turun dengan derasnya membasahi bumi. Aku masih tetap di tempat yang sama. Tempat favoritku. Tempat ternyamanku disini. Aku belum merasakan kedingingan ketika hujan. Cuma sejuk saja. Namun momen ini juga menyenangkan. Walaupun aku justru tak berjodoh dengan siomay dan jus lagi. Tapi tak mengapa.


Akhir-akhir ini aku suka mengabadikan foto saat hujan. Walaupun hasilnya sangat jelek. Aku tidak memakai kamera SLR sehingga bokeh dan fokus yang aku inginkan tidak nampak. Air hujan yang jatuh itu indah. Jatuhnya cepat seperti ketika kau bangun kesiangan dan dengan grasa-grusu mempersiapkan semuanya. Hujan itu berkah. Aku suka itu. Hujan membuat tanaman subur. Menyirami tanah yang gersang, rerumputan, pohon mangga yang berbuah mengkal, kemudian buah mangga muda itu kepayahan melindungi diri dari air. Namun ia juga menikmatinya. Hujan diiringi kilat. Kadang petir. Kadang gledek. Sore ini hujan diiringi gledek dan kilat. Momen itu menghiasi langit yang keabu-abuan. Langit seolah bernyanyi, memainkan instrument yang pas ketika hujan. Membuat anak kecil berlari-lari keluar dari rumah. Berteriak bebas. Tertawa menunjukkan gigi mungil mereka. Lucu. Mereka gembira. Namun ibunya akan berteriak dari dalam rumah. "Nak, pulanglah! Jangan main hujan. Nanti kau sakit." namun anak tetap pada kegiatannya. Menikmati hujan. Anak sekecil itu menyukai hujan dan tidak memikirkan apapun juga kecuali kegembiraan. Aku juga ingin menjadi seperti itu.


Namun hujan membuat perutku menjadi cepat lapar. Ah tidak. Jangan salahkan hujan. Karena ini salahku. Aku memang belum makan siang. "Tuan, temani lambung dengan aneka jenis teman buat kami. Kami butuh teman disini."  jika saja perut bisa meminta. Mungkin seperti itulah bunyi nya. Lambung kosong. Hanya terisi mie instan dan setengah air mineral saja. Perutku bergemerutuk lagi. Namun aku masih diam. Karena tidak ada yang bisa dimakan. Sekarang sedang hujan. Aku masih harus disini. Di tempat favoritku. Namun jangan salahkan hujan. Karena ini salahku. Aku memang belum makan siang.


Hujan masih saja dengan anggunnya turun. Siraman berkah dari langit. Masih mengguyur bumi ini. Keberkahan. Hujan akan menyisakan bau khas tanah basah. Aku hapal bau itu. Kadang juga menyisakan bau khas rumput. Bau itu harum. Coba kalian hirup baunya. Namun sekarang aku masih harus disini. Di tempat favoritku.

Sabtu, Mei 05, 2012

Kopi kopi

Sebenarnya hal kecil bisa menjadi besar dan besar menjadi kecil tergantung diri kita yang memaknai nya sendiri. Hidup ini memang indah adanya. Seperti bunga yang bermekaran segar di pagi hari. Indah. Sedap dipandang. Membuat daun-daun kembali sumringah. Rentetan pohon yang berdiri kokoh. Begitupun bentala tempat kita berpijak atas izin dari-Nya. Namun hidup memang tidak selamanya mulus. Semua orang menghadapi kerikil-kerikil tajamnya kehidupan. Tak terkecuali juga aku. Acapkali aku merasakan kejenuhan hidup ini. Entah kenapa. Rasanya kosong saja. Penat. Datar. Lalu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Selain meratapi.

Kadang suatu hal yang sederhana pun bisa membuat diri kita bahagia, seperti minum kopi misalnya (ini kata temanku). Menyeruput kopi yang sedang mengepulkan asapnya memang membuat rasa beda tersendiri bagi penikmatnya. Kopi itu hitam. Nikmat. Namun kopi juga punya sisi pahit. Jika rasa itu pas. Akan sangat nikmat diseruput. Tak peduli dengan kafein yang terkandung di dalamnya. Tak peduli bahwa itu dapat merusak gigi, dan mengubahnya menjadi kuning laksana kulit sus. Tapi aku menikmati saat-saat itu. Terakhir aku minum kopi beberapa hari kemarin. Begitu nikmat. Hangat. Melewati mulut, lidah, tenggorokan, hingga sampai ke perutku rasa hangatnya. Aku bahagia. Namun apakah akan tetap nikmat jika kopi itu benar-benar pahit tanpa gula sekalipun dan apakah akan tetap nikmat jika asap yang mengepul itu hilang tak lagi menari-nari diatas genangan pulau kecil hitam itu? Aku rasa hambar. Tidak enak. Bosan.

Dari buku yang aku baca yang berjudul filosofi kopi karya dee Aku bisa menyunggingkan senyum membenarkan dan mencintai hidup ini.

"KOPI TIWUS" Artinya : walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.