Senin, Mei 07, 2012
cerita hari ini
Aku masih terduduk di atas kasur empuk ini. Termenung. Alam pikiranku melalang buana. Sebuah novel berjudul larung tergeletak manis di samping kiriku menunggu lembar demi lembar kalimat di setiap kertas itu aku lahap dalam keheningan membaca. Namun aku masih bergeming. Aku mengantuk. Aku tidak bisa berkonsentrasi membaca disaat seperti ini. Terlebih lagi kalimat demi kalimat di novel ini berat. Perlu pemahaman intelektual.
Keadaan tidak sepenuhnya hening. Terdengar bunyi gemerisik dari luar. Mungkin para pekerja. Mungkin motor. Mungkin mobil. Dan sejuta kemungkinan lainnya. Tapi kita tidak akan pernah tahu jika tidak melihat keluar bukan?
Kemudian adzan dengan merdunya terdengar dari setiap penjuru masjid sekitar Tembalang ini. Memanggil para umat muslim untuk melakukan kewajiban sholat dzuhur dihari yang terik namun juga menyejukkan hati karena aku baru aja mendengar panggilan sholat. Membuat aku terhenyak dari pikiranku. Lamunanku. Kebosanan. Keheningan batin mungkin? Aku sudah harus ke kamar mandi untuk membasuh anggota tubuhku dengan air wudhu. Ya Allah ini waktu beribadah kepadaMu. Aku ingin bercerita banyak tentang hari-hariku. Tentang apa saja. Aku tak ingin menunda. Karena aku tak akan tahu berapa lama umurku
Tembalang, 7 mei 2012. siang hari yang lumayan sejuk
Aku tidak ingin tidur. Tidak ingin. Tidak ingin!
Namun kelopak mata seolah diberatkan oleh kiloan emas. Berat. Aku hanya mengerjapkan mataku menahan kantuk. Badanku tidak menolak. Dia merasa nyaman berbaring di kasur empuk. Di suasana yang tidak terlalu panas ini pilihan untuk tidur bukan menjadi masalah. Namun masalah bagiku. Buka pada kau.
Hembusan dari angin buatan membuatku terbuai, seolah kau berada di pulau Hawaii. Menikmati semilir angin pantai, ditemani secangkir jus buah segar. Cemilan gurih dan nikmat. Tak lupa juga topi bundar menghiasi kepala. Surga dunia. Ingin menjadi nyata saja.
Sekali lagi hembusan angin ini seolah mengajak untuk menina bobokkan dirimu. Berkata "ayolah tidur saja, ini waktu yang tepat" dan diberi hiasan senyuman memikat ala wanita cantik yang menggoda pria.
Aku berusaha melawan. Kemudian berhasil. Kemudian larut lagi.
Sebenarnya apa konsep dari semua ini?
Perlukah sebuah alasan dari pertanyaan konyol ini. Tak akan pernah dan bisa kujawab karena disini lah tempatnya terjawab sudah. Ataukah belum? Terlalu jamak. Namun aku mengerti dan seulas senyum tipis melingkari sudut bibirku.
Tembalang, 7 mei 2012. 03:45 PM
Sore ini hujan turun dengan derasnya membasahi bumi. Aku masih tetap di tempat yang sama. Tempat favoritku. Tempat ternyamanku disini. Aku belum merasakan kedingingan ketika hujan. Cuma sejuk saja. Namun momen ini juga menyenangkan. Walaupun aku justru tak berjodoh dengan siomay dan jus lagi. Tapi tak mengapa.
Akhir-akhir ini aku suka mengabadikan foto saat hujan. Walaupun hasilnya sangat jelek. Aku tidak memakai kamera SLR sehingga bokeh dan fokus yang aku inginkan tidak nampak. Air hujan yang jatuh itu indah. Jatuhnya cepat seperti ketika kau bangun kesiangan dan dengan grasa-grusu mempersiapkan semuanya. Hujan itu berkah. Aku suka itu. Hujan membuat tanaman subur. Menyirami tanah yang gersang, rerumputan, pohon mangga yang berbuah mengkal, kemudian buah mangga muda itu kepayahan melindungi diri dari air. Namun ia juga menikmatinya. Hujan diiringi kilat. Kadang petir. Kadang gledek. Sore ini hujan diiringi gledek dan kilat. Momen itu menghiasi langit yang keabu-abuan. Langit seolah bernyanyi, memainkan instrument yang pas ketika hujan. Membuat anak kecil berlari-lari keluar dari rumah. Berteriak bebas. Tertawa menunjukkan gigi mungil mereka. Lucu. Mereka gembira. Namun ibunya akan berteriak dari dalam rumah. "Nak, pulanglah! Jangan main hujan. Nanti kau sakit." namun anak tetap pada kegiatannya. Menikmati hujan. Anak sekecil itu menyukai hujan dan tidak memikirkan apapun juga kecuali kegembiraan. Aku juga ingin menjadi seperti itu.
Namun hujan membuat perutku menjadi cepat lapar. Ah tidak. Jangan salahkan hujan. Karena ini salahku. Aku memang belum makan siang. "Tuan, temani lambung dengan aneka jenis teman buat kami. Kami butuh teman disini." jika saja perut bisa meminta. Mungkin seperti itulah bunyi nya. Lambung kosong. Hanya terisi mie instan dan setengah air mineral saja. Perutku bergemerutuk lagi. Namun aku masih diam. Karena tidak ada yang bisa dimakan. Sekarang sedang hujan. Aku masih harus disini. Di tempat favoritku. Namun jangan salahkan hujan. Karena ini salahku. Aku memang belum makan siang.
Hujan masih saja dengan anggunnya turun. Siraman berkah dari langit. Masih mengguyur bumi ini. Keberkahan. Hujan akan menyisakan bau khas tanah basah. Aku hapal bau itu. Kadang juga menyisakan bau khas rumput. Bau itu harum. Coba kalian hirup baunya. Namun sekarang aku masih harus disini. Di tempat favoritku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCiee demi apo yang? Haha
HapusMaklum lagi laper jadi diomongin bae :p