Halaman

Sabtu, Mei 05, 2012

Kopi kopi

Sebenarnya hal kecil bisa menjadi besar dan besar menjadi kecil tergantung diri kita yang memaknai nya sendiri. Hidup ini memang indah adanya. Seperti bunga yang bermekaran segar di pagi hari. Indah. Sedap dipandang. Membuat daun-daun kembali sumringah. Rentetan pohon yang berdiri kokoh. Begitupun bentala tempat kita berpijak atas izin dari-Nya. Namun hidup memang tidak selamanya mulus. Semua orang menghadapi kerikil-kerikil tajamnya kehidupan. Tak terkecuali juga aku. Acapkali aku merasakan kejenuhan hidup ini. Entah kenapa. Rasanya kosong saja. Penat. Datar. Lalu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Selain meratapi.

Kadang suatu hal yang sederhana pun bisa membuat diri kita bahagia, seperti minum kopi misalnya (ini kata temanku). Menyeruput kopi yang sedang mengepulkan asapnya memang membuat rasa beda tersendiri bagi penikmatnya. Kopi itu hitam. Nikmat. Namun kopi juga punya sisi pahit. Jika rasa itu pas. Akan sangat nikmat diseruput. Tak peduli dengan kafein yang terkandung di dalamnya. Tak peduli bahwa itu dapat merusak gigi, dan mengubahnya menjadi kuning laksana kulit sus. Tapi aku menikmati saat-saat itu. Terakhir aku minum kopi beberapa hari kemarin. Begitu nikmat. Hangat. Melewati mulut, lidah, tenggorokan, hingga sampai ke perutku rasa hangatnya. Aku bahagia. Namun apakah akan tetap nikmat jika kopi itu benar-benar pahit tanpa gula sekalipun dan apakah akan tetap nikmat jika asap yang mengepul itu hilang tak lagi menari-nari diatas genangan pulau kecil hitam itu? Aku rasa hambar. Tidak enak. Bosan.

Dari buku yang aku baca yang berjudul filosofi kopi karya dee Aku bisa menyunggingkan senyum membenarkan dan mencintai hidup ini.

"KOPI TIWUS" Artinya : walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.

2 komentar:

  1. ila bahasa tulisannya sekarang dewasa banget :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan udah kuliah kaka. Jadi bahasaku ga boleh ababil kayak sma dulu hahaha

      Hapus