Halaman

Minggu, Juni 23, 2013

Mereka nyata

Sesekali aku menggigit ujung-ujung kuku. Lalu menyentuh dengan takut ujung kaki yang kedinginan.
Sambil melirik awas kiri-kanan mencari apa yang harus dicari.
Kotak yang bisa bersuara tak kunyalakan. Ia mati dan kehitaman. 
Buku-buku masih sama. Membisu dan kepucatan. Banyak yang mulai kecoklatan dan berdebu tebal. Sedikit berbau.
Semua yang ada disini tanpa darah. Pucat. Hampir mati.

Ah, sampai kapan?

Kapan mereka datang?
Jika mereka datang, rasanya ingin kupeluk sampai mereka bernafas seperti ikan tanpa air. Mencium seperti dinding yang kucium Kamis lalu.
Mereka masih terlalu sibuk. Aku memaklumi.

Mereka nyata. Dan selalu nyata.

(Untuk Ibuk dan Ayah tersayang di tempat kelahiranku)

Mata

Tertutup. Terbuka.
Berkedip. Cepat. Lambat


Ia tak akan pernah bohong.
Mata itu tak akan pernah bohong.

Selasa, Juni 18, 2013

Pilu

Sudah kubisik bahwa jangan lagi kau aduk ramuan paku itu,
Tapi kau membantah.
Kali ini kau campur darah hitam, semut hitam, jarit hitam.
Itu punya siapa?

Kau lalu marah.
Kau cubit mataku dengan belati.
Aku mengerang, tapi tak lantas marah pula.

Kutitah sekawanan semut memangkas ramuan paku.
Aku tidak pernah tega, kau tidak tahu.
Kau injak semut-semut.
Kau acungkan tombak.
Kau pilih ramuan paku.

Sekarang pilu.

Juni 2013

Sabtu, Juni 08, 2013

hu.. jan

ya, memang tidak ada yang lebih menyebalkan lagi selain hujan deras dan saya menyetel musik sekencang-kencangnya berusaha mengalahkan suara hujan yang turun mengejek saya. terus saja langit dibuat menangis. saya memang tidak peduli apapun.

hari ini Sabtu, esok Minggu, esok lagi Senin. katanya ini long weekend, tapi saya tidak menyambutnya dengan riang. bermacam alasan yang tidak mungkin saya utarakan disini, saya bosan dengan long weekend. saya ingin pulang. mungkin ini terlihat kekanakan mengingat saya sudah semester 4 dan saya masih saja mengeluh bodoh seperti anak TK ditinggal ibunya. mungkin orang tua saya akan sangat kecewa karena saya masih saja mengeluh bodoh.
iya, saya tahu saya memang bodoh. (sunyi,,.. krik.. tapi bukan suara jangkrik)

(kemudian hujan perlahan berhenti)

hei, hujan. mengapa kau berhenti? apa kau sudah benar-benar mengalah dengan keadaan? dengan saya? atau ada yang melototkan matanya kepadamu dan mengancam agar kau berhenti membuat langit menangis?

(alunan musik ingin saja mematikan suaranya.. lalu jari-jari bergerak tegas, menekannya. hanya itu)

bsssttttt..... ggggggrrr..... (klik. mati)

tik... tik.. tikk..... (tetesan sisa-sisa tangisan langit sesekali terdengar lirih)

Ah. saya bodoh. beberapa menit yang lalu panggilan Tuhan baru saja memanggil saya. saya bisa saja berlari untuk menjauh dariNya. tapi saya memilih mendekat.
Iya, Tuhan. Ini tanda yang ke sekian kalinya.
Iya, saya tahu.
Cukup, kan?
Ini remah-remah.
Saya selalu berusaha.
Iya, Tuhan. Maafkan saya.
Saya bodoh.