Sambil melirik awas kiri-kanan mencari apa yang harus dicari.
Kotak yang bisa bersuara tak kunyalakan. Ia mati dan kehitaman.
Buku-buku masih sama. Membisu dan kepucatan. Banyak yang mulai kecoklatan dan berdebu tebal. Sedikit berbau.
Semua yang ada disini tanpa darah. Pucat. Hampir mati.
Ah, sampai kapan?
Kapan mereka datang?
Jika mereka datang, rasanya ingin kupeluk sampai mereka bernafas seperti ikan tanpa air. Mencium seperti dinding yang kucium Kamis lalu.
Mereka masih terlalu sibuk. Aku memaklumi.
Mereka nyata. Dan selalu nyata.
(Untuk Ibuk dan Ayah tersayang di tempat kelahiranku)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar