...........
"Mademoiselle," katanya dengan mata mengerling. "Jika..." Jacques sengaja memotong kalimatnya. "Jika kebetulan terjadi..."
"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apa artinya?" Marja melanjutkan.
Jacques mengangguk. "Ya. Apa artinya?"
"Artinya," sahut Marja. Ia teringat jawaban Parang Jati. Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola, dan seorang beriman akan mencari rencana Tuhan. Tapi, ah, ia bukan ilmuwan ataupun orang beriman. Ia hanya orang biasa yang, kalau bisa, ingin berbuat baik pada orang lain.
Lalu Marja menjawab, "Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, artinya masing-masing kita memiliki peran."
Jacques mengangkat alis, menunjukkan bahwa jawaban si manis Marja membuat ia takjub.
"Oh la la. Kalau begitu, apa peran saya, si Jacques tua ini?"
Marja memonyongkan bibir. Ia tak berani menyatakan peran Jacques yang utama baginya. Sebab Jacques-lah yang dulu menyatakan apa yang saat itu belum selesai tertulis di pelupuk.
"Peran kamu, Jacques....," Marja diam sejenak. Ia mengecilkan suara dan mendekatkan mulutnya ke telinga lelaki jangkung itu. "... mungkin adalah membuat saya lebih jujur."
Jacques mengerling sambil menempelkan telunjuk ke mulut, memberi isyarat bahwa itu adalah rahasia di antara mereka berdua saja. Ah, ada yang Marja belum bisa rumuskan. Barangkali karena ia masih belia. Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, maka kita bisa mencoba membaca tanda. Dan Jacques sesungguhnya hanya membaca tanda yang sedang menjadi di mata Marja ketika itu. "La sémiotique," kata si lelaki tua.
Dan setiap kali sebuah tanda selesai dibaca, setiap kali pula yang ditandainya telah bergerak. Seperti hubungan Marja dan Parang Jati yang cair, mengalir.
(Manjali dan Cakrabirawa bab 39 halaman 247)
"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?" (Roman Misteri Manjali dan Cakrabirawa - Seri Bilangan Fu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar