Halaman

Minggu, Januari 20, 2013

Akar, kini kau pasti tertawa bahagia disana.
Ah ya, aku lupa bahwa kau tentu akan terus tertawa tanpa henti.
Berbanding terbalik denganku.
Akar, jika kupaksa zona waktu ini, kau akan memberi jaminan apa?
Tahukah engkau bahwa aku telah lama menahan muntahan ini.
Ini sudah terlampau cukup. Aku ingin muntah sekarang, bolehkah?

Akar, pernahkah saat kau membuka kelopak mata, yang kau lihat bukan dunia, tetapi seribu iblis berwajah merah menakutkan?
Aku rasa kau tak pernah begitu.
Namun aku demikian.
Akar, aku sudah lama pergi dari dunia. Aku sekarang bersinggah di neraka.
Entah kenapa bibir ini dipaksa untuk mengukir senyum. Aku tersenyum kepada iblis.
Akar, aku bahagia.
Entah definisi bahagia seperti apa.

Akar, ini telah berputar. Butuh keajaiban dari ribuan peri-peri bertopeng untuk menghentikannya.
Namun aku sudah cukup letih untuk menggapai sayap peri, lalu membawanya pulang.
Ia hanya muncul dalam kotak kaca alamku.
Ia hanya tersenyum mengeluarkan gigi yang berlumuran darah.
Akar, aku tak mengerti mengapa peri seperti itu.
Pernah suatu kali aku mencoba merobek sayapnya, kucekik lehernya.
Namun yang kudapat hanya darah. Darah..

Akar, ratusan bahkan ribuan makhluk telah kujumpai disini.
Tapi aku tak mengerti mengapa mereka begitu sama meskipun rupanya beda.
Oh, aku lupa. Bahwa ketika hidup ini terlahir, mereka memilih.
Memilih yang aku benci tapi kukenakan juga.
Haha. Ini begitu picik.
Dijelmakan sebuah bola. Lalu dihempaskan. Dimainkan lagi.
Tapi ini bola. Tanpa rasa.
Akar, kau boleh tertawa. Aku sudah lama mati. Tapi aku hidup lagi.
Tertawalah. Sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar