Kita ini sudah terlalu pandai.
Tapi kita juga terlalu ceroboh.
Bagaimana bisa sebuah teater ini menyeruak asap pembakaran sampah?
Kau dan aku hanya hadir dalam fana.
Membelit banyak peristiwa dan cita-cita.
Bergumpal gula-gula, asam, dan brotoali.
Kau tidak memilih diantaranya.
Betapa kuatnya kau bercangkang beludru tebal.
Keputih-putihan, tak larut dan keras.
Kau hanya pucat lalu membiru setelahnya.
Sementara aku?
Masih sangat kuno membelah pikiran.
Mencari-cari lelehan api.
Tembalang, 27 april 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar