Yang tertinggal hanya aroma angin menyeruak ke dalam pohon yang terguling lemah.
Cicit-cicit burung serupa tawa peri merah.
Peri merah menyeringai senang.
Namun pohon masih tak berdaya.
Kali lain aroma darah bercampur angin kehitaman menelusuk ke daging pohon.
Semakin buruklah pohon itu sekarang.
Bukan hanya aroma yang datang namun kematian pun beriringan.
Pohon buntung tanpa nyawa.
Sebab nyawa sudah dipersembahkan pada rumah mewah diujung sekuntum bunga.
9 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar